Langsung ke konten utama

Memang harusnya seperti itu

 Beberapa bulan lalu, tepatnya permulaan bulan September, aku memvalidasi apa yang aku simpan dan rasakan selama dua tahun terakhir. Aku tidak tahu itu merupakan bentuk keberanian atau bentuk kebodohanku yang lain, tapi yang aku tahu setelah pesan itu berhasil aku kirim, sudut pandangku tentangmu berubah sedemikian rupa. Tapi memang sejak awal pun sebenarnya aku tidak benar-benar mengenalmu. Aku terlalu dibutakan oleh perasaanku, hingga apapun yang kamu lakukan atau perbuat tak pernah salah dimataku.

Pesan panjang itu sudah aku siapkan dua bulan sebelumnya, bukan sekali waktu aku menuliskannya, tapi hampir setiap hari ketika sesuatu yang perlu disampaikan melewati pikiranku. Awalnya aku berpikir kemungkinan aku sudah gila, karena hal ini sama sekali diluar kemampuanku, tetapi kemudian keinginan untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya mendorongku untuk melanjutkan tulisan panjang itu. Tulisan pertama yang aku tuliskan sudah cukup panjang dan berisi beberapa nama. Kemudian pada tulisan-tulisan berikutnya aku hilangkan nama-nama itu dan aku ganti dengan sesuatu yang mewakilinya, dan aku sangat yakin sekali, sekali membaca kamu pasti langsung paham siapa yang aku maksud.

Pada sore hari, tepatnya pukul 16 aku memberanikan diri untuk mengirimkan pesan pertamaku. Pesan itu berisi salam dan sapaan namamu. Dan yah, kamu ramah sekali langsung membalasnya dan menjawab salam ku, aku ucapkan terimakasih untuk itu. Percakapan itu berlangsung sangat kaku dan kemungkinan kamu begitu sibuknya hingga butuh waktu berjam-jam hingga pernah sehari untuk membalas pesan bodohku itu. Dalam percakapan itu bagiku kamu jahat sekali, aku merasa sedang tidak berbalas pesan dengan seorang teman lama, tapi aku merasa seolah sedang berwawancara, tak ada pertanyaan atau sapaan balik untukku. Ya, aku paham dan sangat mengerti mengapa dan kenapa itu terjadi, tapi tidakkah kamu paham bagaimana perasaanku waktu itu, aku merasa mungkin seharusnya aku tidak mengirimimu pesan, aku berpikir mungkin harusnya aku harus berpikir dua ribu kali sebelum ini. Dengan kebodohanku, aku berulangkali berusaha untuk mencairkan percakapan beku itu, tapi gagal, kamu bahkan tidak membuka lelucon konyolku itu. Hingga akhirnya aku sadar, percakapan itu harus aku akhiri dengan langsung mengirimkan pesan panjang seperti tujuan awalku.


Malam pukul 23, aku dengan ponselku yang baterainya hampir habis, berusaha untuk mengirim tulisan panjang itu dengan beberapa kata tambahan. Begitu pesan itu aku klik kirim, perasaanku campur aduk antara takut dan lega. Aku takut akan adanya penolakan, tapi aku mengingat kembali toh dalam pesan itu tak ada ajakan apapun. Dan aku lega karena aku tidak perlu lagi berbalas pesan wawancara denganmu karena kemungkinan setelah pesan panjangku itu kamu terima, kamu tak punya keinginan untuk membalas apapun.

 

Dan ya, dugaanku benar. Paginya hingga sore, berulangkali aku lihat tanda aktif di profilmu, tapi tak ada tanda-tanda pesanku akan dibaca. Sehari dua hari, pesan panjang itu seolah membeku dipersimpangan antara ponselku dan ponselmu. Hingga hari kelima tepatnya, aku merasa lelah, tapi tidak tahu apa yang sedang aku tunggu. Aku bercerita pada seorang temanku yang baik hati, dia begitu ternganga mendengar cerita bodohku. Lalu kemudian dengan kebaikan hatinya dia berniat untuk mengirim pesan yang berisi permohonan agar pesan terakhirku dibaca padamu, katanya kamu langsung membalas dan setuju untuk membaca pesan panjangku itu. Sejujurnya aku merasa senang dan cukup tenang ada seseorang yang begitu peduli dengan kisah sedihku, untuk itu aku sangat berterimakasih pada teman baikku itu. Walaupun setelah itu pun, masih tak ada tanda-tanda pesanku akan dibaca olehmu. Aku sempat berpikir kok ada ya jenis orang yang bisa mendiamkan pesan tanpa ada niatan membukanya selama berhari-hari.

Sampai pada hari kesebelas, aku ingat sekali hari itu tiba-tiba aku merasa sangat bodoh, aku merasa seolah menyesal telah mengirim pesan panjang itu. Dan aku pun berniat untuk menarik kembali pesan itu, toh juga pasti masih bisa karena belum dibuka si penerima. Akan tetapi ketika aku lihat pesannya, ada tanda dibaca disana. Aku tidak ingat kapan waktunya, tapi sepertinya waktunya sama dengan waktu beberapa jam lalu ketika aku merasa menyesal. Saat itu aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, pesan panjangku sudah dibuka tapi masih kecil kemungkinan kamu membacanya sampai akhir. Tapi kamu baik sekali ya, menuruti keinginan terakhir yang aku tuliskan dalam pesan panjangku.

Dalam baris terakhir pesan itu, aku menuliskan bahwa aku tidak berharap balasan apapun. dan ya, kamu menurutinya, tidak ada satu kata pun yang kamu kirim sebagai tanda pesan itu sudah diterima. Tapi kamu juga jahat sekali, dalam pesan panjang itu aku berterimakasih karena sudah menerima permintaan pertemananku sebulan yang lalu, dan apa sebenarnya yang kamu pikirkan, kamu menghapus pertemanan itu (?). aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa, yang bisa aku lakukan hanya menangisi kebodohanku sendiri. Tapi lagi-lagi aku seperti diingatkan, memang harusnya seperti itu kok, kamu melakukan hal yang benar, andai kamu membalas pesan panjangku itu hanya dengan satu kata, kemungkinan aku malah mulai menumpuk harapan lagi, dan kemungkinan akan lebih sakit lagi.

-------

Iya, lagi-lagi aku yang salah, aku yang terlebih dulu berharap dan menyimpan perasaan padamu, bukan kamu. Dan untuk semua rasa sakit yang pernah aku rasakan, itu semua salahku sendiri, aku yang salah karena mencintai seseorang yang jauh sekali diatasku dan bahkan sudah mencintai orang lain. Aku yang salah karena tak mau mendengarkan peringatan teman-temanku dahulu. Aku yang salah, bukan kamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membeli yang ke dua

Aku masih ingat bahwa dulu selama aku masih menyimpan perasaan padamu, aku selalu suka terhadap benda apapun yang menjadi peganganmu selama waktu istirahat. Ada satu waktu dimana benda itu adalah buku. Waktu masih smp aku memang sudah suka dengan buku tetapi tidak aku lanjutkan hobiku itu, dan melihatmu membaca buku seperti kembali membangkitkan minat bacaku yang sempat terkubur.   Ketika itu aku sebenarnya tidak terlalu paham dengan buku yang kamu baca bal, sungguh. Aku malah tidak mengerti dengan isinya. Tapi kamu pahamlah bagaimana perasaan orang yang sedang dimabuk asmara, aku memaksa membeli buku itu hanya karena aku ingin memilikinya sama sepertimu. Pada waktu buku itu baru sampai di tanganku, aku begitu menyayangi buku itu, aku beri ia sampul tebal, menuliskan namaku didalamnya, menjaganya seperti aku menjaga lampu ajaib. Aku membacanya, iya aku tetap membacanya meskipun aku masih juga tidak paham dengan isinya. Dengan membuka halaman acak, membukanya pun seperti sedang men...

Dia Temanku

Aku tidak tahu, bahwa ternyata laki-laki yang aku sukai sudah lebih dulu menaruh hati pada salah seorang perempuan di kelasku. Tapi setelah mengetahuinya pun aku tidak benar-benar menyesal telah menjatuhkan hatiku, karena siapa sih yang tahu kapan dan pada siapa akan menjatuhkan hati. Perasaan itu datang tanpa aba-aba, aku sendiri pun lupa alasan apa yang membuatku menyukai laki-laki itu.   Tidak benar-benar menyesal tetapi berhasil membuatku merasa seperti telah salah menempatkan sesuatu. Dan aku menangis, tentu saja. Tapi memangnya apa yang harus aku lakukan waktu itu?, apa aku harus menarik kembali hatiku dan menghapus namanya dalam pikiranku?, tidak semudah itu. Bahkan untuk berhenti memikirkannya pun sulit, terlalu sulit. Aku tidak menaruh kebencian pada perempuan itu, sungguh. Aku hanya merasa tidak seberuntung dia yang telah mendapatkan hati laki-laki itu tanpa diminta. Seringkali aku malah merasa sangat insecure pada perempuan itu, setiap hari, setiap kali aku dekat denga...

Wajar saja

Ak u memperhatikan mereka, tidak selalu, tapi sekali aku mendapatinya sangat jelas tanda-tandanya. Rasa-rasanya wajar sekali laki-laki sepertimu disukai banyak perempuan, dengan kepribadianmu yang teduh, kepintaranmu dalam berbicara, pengetahuanmu tentang ilmu agama, tidak mungkin tidak ada yang diam-diam menaruh hati padamu. Ada, banyak. Di kelas saja ada tiga perempuan, salah satunya ya aku LOL. Aku tahu ini bukan dari orang lain atau mereka sendiri, tapi aku mengamati. Sejak serangan kabar aku diam-diam suka padamu menyebar, orang-orang jadi mengecap bahwa aku = kamu, intinya begitu. Pelan-pelan aku sadari bahwa ada beberapa perempuan di kelas yang seperti memandangku dengan pandangan berbeda, aku memang tidak dekat dan jarang sekali bercengkerama dengan mereka tetapi aku bisa membedakan mana sikap yang berbeda dan mana sikap yang biasanya mereka tujukan padaku. Aku merasa bahwa mereka seolah ingin menyaingiku, oke kita memang bersaing mendapatkan nilai bagus di kelas dan itu meman...