Langsung ke konten utama

Aku membeli yang ke dua

Aku masih ingat bahwa dulu selama aku masih menyimpan perasaan padamu, aku selalu suka terhadap benda apapun yang menjadi peganganmu selama waktu istirahat. Ada satu waktu dimana benda itu adalah buku.

Waktu masih smp aku memang sudah suka dengan buku tetapi tidak aku lanjutkan hobiku itu, dan melihatmu membaca buku seperti kembali membangkitkan minat bacaku yang sempat terkubur. 

Ketika itu aku sebenarnya tidak terlalu paham dengan buku yang kamu baca bal, sungguh. Aku malah tidak mengerti dengan isinya. Tapi kamu pahamlah bagaimana perasaan orang yang sedang dimabuk asmara, aku memaksa membeli buku itu hanya karena aku ingin memilikinya sama sepertimu. Pada waktu buku itu baru sampai di tanganku, aku begitu menyayangi buku itu, aku beri ia sampul tebal, menuliskan namaku didalamnya, menjaganya seperti aku menjaga lampu ajaib.

Aku membacanya, iya aku tetap membacanya meskipun aku masih juga tidak paham dengan isinya. Dengan membuka halaman acak, membukanya pun seperti sedang mencoba memenangkan undian.

Sampai ketika aku melalui fase-fase buruk dari jatuh cinta, buku itu masih tetap kujaga ke-ada-annya. Walaupun seringkali ia kulempar ke dinding kamar. tetapi pada fase-fase buruk itu aku berhasil memahami isi bukunya, aku mengerti dan merasa menemukan alasan untuk berhenti memburuk.

Sempat terpikir olehku untuk menyingkirkannya dengan menjualnya ke toko online ketika aku merasa aku sedang di titik lelah perasaan, aku merasa lelah dengan hatiku yang kian hari kian tidak tahu bagaimana caranya berhenti memendam perasaan padamu bal. Tetapi pemikiran itu hilang seketika ketika aku ingat bahwa di dalam buku itu ada tanda kenang-kenangan dari kedua temanku. Aku memilih mendiamkan buku itu.

Aku mengira-ngira sepertinya tidak sampai setahun aku mendiamkannya, aku kembali membacanya dengan perasaan kosong. Tak ada perasaan amarah ataupun kebahagaiaan disana. Hanya perasaan terkejut karena tulisan yang bercerita ia pernah makan katak.

Aku sempat membawanya ke kostanku di kota, kemudian meninggalkannya di sana selama pandemi. Kemudian aku mulai berpikir bahwa mungkin buku itu sudah hilang, karena aku tidak ingat pernah melihatnya di atas lemariku. Sampai kemudian aku tahu aku salah, buku itu masih disana dengan sampul berlapis debu.

Kini ketika membaca buku itu sudah tak ada perasaan apapun, tak ada perasaan kosong, amarah ataupun kebahagaiaan dimabuk cinta. Yang aku tahu sekarang adalah buku itu hanyalah sebuah buku yang memang sama dengan punyamu. 

Lalu suatu waktu tanpa rencana, aku membeli versi yang ke dua nya. Tapi kini tanpa keinginan menyamai dengan punyamu, ketika perasaan itu sudah berhasil ku akhiri, ketika yang aku tahu hanya karena ingin melanjutkan buku yang sebelumnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dia Temanku

Aku tidak tahu, bahwa ternyata laki-laki yang aku sukai sudah lebih dulu menaruh hati pada salah seorang perempuan di kelasku. Tapi setelah mengetahuinya pun aku tidak benar-benar menyesal telah menjatuhkan hatiku, karena siapa sih yang tahu kapan dan pada siapa akan menjatuhkan hati. Perasaan itu datang tanpa aba-aba, aku sendiri pun lupa alasan apa yang membuatku menyukai laki-laki itu.   Tidak benar-benar menyesal tetapi berhasil membuatku merasa seperti telah salah menempatkan sesuatu. Dan aku menangis, tentu saja. Tapi memangnya apa yang harus aku lakukan waktu itu?, apa aku harus menarik kembali hatiku dan menghapus namanya dalam pikiranku?, tidak semudah itu. Bahkan untuk berhenti memikirkannya pun sulit, terlalu sulit. Aku tidak menaruh kebencian pada perempuan itu, sungguh. Aku hanya merasa tidak seberuntung dia yang telah mendapatkan hati laki-laki itu tanpa diminta. Seringkali aku malah merasa sangat insecure pada perempuan itu, setiap hari, setiap kali aku dekat denga...

Wajar saja

Ak u memperhatikan mereka, tidak selalu, tapi sekali aku mendapatinya sangat jelas tanda-tandanya. Rasa-rasanya wajar sekali laki-laki sepertimu disukai banyak perempuan, dengan kepribadianmu yang teduh, kepintaranmu dalam berbicara, pengetahuanmu tentang ilmu agama, tidak mungkin tidak ada yang diam-diam menaruh hati padamu. Ada, banyak. Di kelas saja ada tiga perempuan, salah satunya ya aku LOL. Aku tahu ini bukan dari orang lain atau mereka sendiri, tapi aku mengamati. Sejak serangan kabar aku diam-diam suka padamu menyebar, orang-orang jadi mengecap bahwa aku = kamu, intinya begitu. Pelan-pelan aku sadari bahwa ada beberapa perempuan di kelas yang seperti memandangku dengan pandangan berbeda, aku memang tidak dekat dan jarang sekali bercengkerama dengan mereka tetapi aku bisa membedakan mana sikap yang berbeda dan mana sikap yang biasanya mereka tujukan padaku. Aku merasa bahwa mereka seolah ingin menyaingiku, oke kita memang bersaing mendapatkan nilai bagus di kelas dan itu meman...