Langsung ke konten utama

Dia Temanku

Aku tidak tahu, bahwa ternyata laki-laki yang aku sukai sudah lebih dulu menaruh hati pada salah seorang perempuan di kelasku. Tapi setelah mengetahuinya pun aku tidak benar-benar menyesal telah menjatuhkan hatiku, karena siapa sih yang tahu kapan dan pada siapa akan menjatuhkan hati. Perasaan itu datang tanpa aba-aba, aku sendiri pun lupa alasan apa yang membuatku menyukai laki-laki itu. 

Tidak benar-benar menyesal tetapi berhasil membuatku merasa seperti telah salah menempatkan sesuatu. Dan aku menangis, tentu saja.

Tapi memangnya apa yang harus aku lakukan waktu itu?, apa aku harus menarik kembali hatiku dan menghapus namanya dalam pikiranku?, tidak semudah itu. Bahkan untuk berhenti memikirkannya pun sulit, terlalu sulit.

Aku tidak menaruh kebencian pada perempuan itu, sungguh. Aku hanya merasa tidak seberuntung dia yang telah mendapatkan hati laki-laki itu tanpa diminta. Seringkali aku malah merasa sangat insecure pada perempuan itu, setiap hari, setiap kali aku dekat dengannya aku kadang merasa kecil di hadapannya.

---

Dia adalah anak perempuan asing pertama yang aku kenal di lingkungan sekolah ketika masa orientasi siswa. Dan sayangnya dia juga merupakan orang pertama yang aku beri tahu bahwa aku sedang menyukai seorang anak laki-laki di kelas.

Ada satu hal yang sampai sekarang aku tidak mengerti apa maksud dia bercerita balik bahwa dia sudah lama dekat dengan laki-laki itu ketika aku menceritakan perasaanku terhadap laki-laki itu padanya. Ketika itu bukannya lega karena telah berbagi cerita aku malah mendapatkan kesesakan karena mengetahui bahwa laki-laki itu sudah lama dekat dengannya. Dan aku menangis, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menangis karena perkara perasaan pada seorang laki-laki.

Mungkin dulu hatiku belum benar-benar paham dengan permasalahan seperti ini, waktu itu aku sama sekali tidak mencium pertanda bahwa laki-laki itu telah menaruh hati padanya. Harusnya dengan mendengar semua cerita yang disampaikan secara langsung oleh perempuan itu-tentang dirinya yang telah lama menjalin komunikasi dengan laki-laki itu, aku langsung tahu, tapi tidak, aku tidak memahaminya. Mungkin cerita-cerita itu terlalu menyakitkan hingga inderaku tidak mampu menangkap maknanya.

 ---

Tetapi bagaimanapun juga aku tidak bisa menyalahkan perempuan itu atas apa yang aku alami, karena yaa dia memang tidak salah apapun. dia teman satu asramaku, teman satu perjuanganku, dia temanku bukan musuhku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membeli yang ke dua

Aku masih ingat bahwa dulu selama aku masih menyimpan perasaan padamu, aku selalu suka terhadap benda apapun yang menjadi peganganmu selama waktu istirahat. Ada satu waktu dimana benda itu adalah buku. Waktu masih smp aku memang sudah suka dengan buku tetapi tidak aku lanjutkan hobiku itu, dan melihatmu membaca buku seperti kembali membangkitkan minat bacaku yang sempat terkubur.   Ketika itu aku sebenarnya tidak terlalu paham dengan buku yang kamu baca bal, sungguh. Aku malah tidak mengerti dengan isinya. Tapi kamu pahamlah bagaimana perasaan orang yang sedang dimabuk asmara, aku memaksa membeli buku itu hanya karena aku ingin memilikinya sama sepertimu. Pada waktu buku itu baru sampai di tanganku, aku begitu menyayangi buku itu, aku beri ia sampul tebal, menuliskan namaku didalamnya, menjaganya seperti aku menjaga lampu ajaib. Aku membacanya, iya aku tetap membacanya meskipun aku masih juga tidak paham dengan isinya. Dengan membuka halaman acak, membukanya pun seperti sedang men...

Wajar saja

Ak u memperhatikan mereka, tidak selalu, tapi sekali aku mendapatinya sangat jelas tanda-tandanya. Rasa-rasanya wajar sekali laki-laki sepertimu disukai banyak perempuan, dengan kepribadianmu yang teduh, kepintaranmu dalam berbicara, pengetahuanmu tentang ilmu agama, tidak mungkin tidak ada yang diam-diam menaruh hati padamu. Ada, banyak. Di kelas saja ada tiga perempuan, salah satunya ya aku LOL. Aku tahu ini bukan dari orang lain atau mereka sendiri, tapi aku mengamati. Sejak serangan kabar aku diam-diam suka padamu menyebar, orang-orang jadi mengecap bahwa aku = kamu, intinya begitu. Pelan-pelan aku sadari bahwa ada beberapa perempuan di kelas yang seperti memandangku dengan pandangan berbeda, aku memang tidak dekat dan jarang sekali bercengkerama dengan mereka tetapi aku bisa membedakan mana sikap yang berbeda dan mana sikap yang biasanya mereka tujukan padaku. Aku merasa bahwa mereka seolah ingin menyaingiku, oke kita memang bersaing mendapatkan nilai bagus di kelas dan itu meman...