Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2022

Aku membeli yang ke dua

Aku masih ingat bahwa dulu selama aku masih menyimpan perasaan padamu, aku selalu suka terhadap benda apapun yang menjadi peganganmu selama waktu istirahat. Ada satu waktu dimana benda itu adalah buku. Waktu masih smp aku memang sudah suka dengan buku tetapi tidak aku lanjutkan hobiku itu, dan melihatmu membaca buku seperti kembali membangkitkan minat bacaku yang sempat terkubur.   Ketika itu aku sebenarnya tidak terlalu paham dengan buku yang kamu baca bal, sungguh. Aku malah tidak mengerti dengan isinya. Tapi kamu pahamlah bagaimana perasaan orang yang sedang dimabuk asmara, aku memaksa membeli buku itu hanya karena aku ingin memilikinya sama sepertimu. Pada waktu buku itu baru sampai di tanganku, aku begitu menyayangi buku itu, aku beri ia sampul tebal, menuliskan namaku didalamnya, menjaganya seperti aku menjaga lampu ajaib. Aku membacanya, iya aku tetap membacanya meskipun aku masih juga tidak paham dengan isinya. Dengan membuka halaman acak, membukanya pun seperti sedang men...

Dia Temanku

Aku tidak tahu, bahwa ternyata laki-laki yang aku sukai sudah lebih dulu menaruh hati pada salah seorang perempuan di kelasku. Tapi setelah mengetahuinya pun aku tidak benar-benar menyesal telah menjatuhkan hatiku, karena siapa sih yang tahu kapan dan pada siapa akan menjatuhkan hati. Perasaan itu datang tanpa aba-aba, aku sendiri pun lupa alasan apa yang membuatku menyukai laki-laki itu.   Tidak benar-benar menyesal tetapi berhasil membuatku merasa seperti telah salah menempatkan sesuatu. Dan aku menangis, tentu saja. Tapi memangnya apa yang harus aku lakukan waktu itu?, apa aku harus menarik kembali hatiku dan menghapus namanya dalam pikiranku?, tidak semudah itu. Bahkan untuk berhenti memikirkannya pun sulit, terlalu sulit. Aku tidak menaruh kebencian pada perempuan itu, sungguh. Aku hanya merasa tidak seberuntung dia yang telah mendapatkan hati laki-laki itu tanpa diminta. Seringkali aku malah merasa sangat insecure pada perempuan itu, setiap hari, setiap kali aku dekat denga...

Memang harusnya seperti itu

  Beberapa bulan lalu, tepatnya permulaan bulan September, aku memvalidasi apa yang aku simpan dan rasakan selama dua tahun terakhir. Aku tidak tahu itu merupakan bentuk keberanian atau bentuk kebodohanku yang lain, tapi yang aku tahu setelah pesan itu berhasil aku kirim, sudut pandangku tentangmu berubah sedemikian rupa.  Tapi memang sejak awal pun sebenarnya aku tidak benar-benar mengenalmu. Aku terlalu dibutakan oleh perasaanku, hingga apapun yang kamu lakukan atau perbuat tak pernah salah dimataku. Pesan panjang itu sudah aku siapkan dua bulan sebelumnya, bukan sekali waktu aku menuliskannya, tapi hampir setiap hari ketika sesuatu yang perlu disampaikan melewati pikiranku. Awalnya aku berpikir kemungkinan aku sudah gila, karena hal ini sama sekali diluar kemampuanku, tetapi kemudian keinginan untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya mendorongku untuk melanjutkan tulisan panjang itu. Tulisan pertama yang aku tuliskan sudah cukup panjang dan berisi beberapa nama. K...