Langsung ke konten utama

Wajar saja

Aku memperhatikan mereka, tidak selalu, tapi sekali aku mendapatinya sangat jelas tanda-tandanya. Rasa-rasanya wajar sekali laki-laki sepertimu disukai banyak perempuan, dengan kepribadianmu yang teduh, kepintaranmu dalam berbicara, pengetahuanmu tentang ilmu agama, tidak mungkin tidak ada yang diam-diam menaruh hati padamu. Ada, banyak.

Di kelas saja ada tiga perempuan, salah satunya ya aku LOL. Aku tahu ini bukan dari orang lain atau mereka sendiri, tapi aku mengamati. Sejak serangan kabar aku diam-diam suka padamu menyebar, orang-orang jadi mengecap bahwa aku = kamu, intinya begitu. Pelan-pelan aku sadari bahwa ada beberapa perempuan di kelas yang seperti memandangku dengan pandangan berbeda, aku memang tidak dekat dan jarang sekali bercengkerama dengan mereka tetapi aku bisa membedakan mana sikap yang berbeda dan mana sikap yang biasanya mereka tujukan padaku. Aku merasa bahwa mereka seolah ingin menyaingiku, oke kita memang bersaing mendapatkan nilai bagus di kelas dan itu memang harus, tapi aku tidak merasa begitu, mereka ingin menyaingiku dalam hal yang aku mengerti ketika aku melihat aksi mereka, ya mereka bersaing untuk mendapatkanmu.

Pernah beberapa kali aku mendapati salah satunya sedang nyaman sekali memandangimu dari kejauhan, dan pernah juga melihat ia sok bertanya tentang pelajaran padamu, padahal menurutku materi itu sudah sangat jelas dijelaskan oleh guru dan aku tahu bahwa dia adalah salah satu murid pintar di kelas, dan yang paling aku ketahui tentang perempuan itu adalah bahwa perempuan itu tidak pernah bahkan seperti anti dekat-dekat dengan lawan jenis, aku tahu karena selama tiga tahun kami berdekatan tempat duduk. Oke mungkin aku berpikir seperti itu karena dulu aku cemburu atau sejenisnya, tapi sampai saat ini pun ketika aku berpikir jernih, hal itu adalah trik yang dilakukan seseorang yang sedang kasmaran untuk dekat dengan orang yang ia taksir.

Untuk perempuan yang satunya aku tahu jelas bukan ngawur, aku menyaksikan bahwa perempuan ini percaya kamu ada ikatan denganku. Aku juga sedikit-sedikit merasakan bahwa diam-diam dia memendam rasa sedih dengan kabar itu. Aku memang tidak bisa membaca pikiran orang, tapi aku tahu dari caranya bersikap. Aku jadi berpikir jangan-jangan dialah orang pertama yang menaruh perasaan padamu, karena wajar saja itu terjadi, aku pernah mendengarnya menuturkan bahwa kamu pernah chatingan dengannya di facebook dan itu artinya kamu pernah sangat dekat dengannya. Dan ada satu kejadian yang malah membuatku semakin yakin, aku masih ingat sekali ketika jam pelajaran kosong, temannya berteriak memanggilmu untuknya, aku bisa membedakan mana yang candaan dan mana yang kenyataan karena ketika aku lihat ia tengah menahan tangis. Dan hal yang malah sangat jelas sekali adalah bahwa dia terang-terangan sekali seperti ingin menjatuhkanku, bukan, bukan menjatuhkan, tapi mengetes kesabaranku. Ketika itu adalah giliran kelompokku presentasi dan nahasnya aku bagian menjawab, si perempuan ini bertanya dan kebetulan aku yang menjawab, dan dia tidak puas dengan jawabanku, dia seperti ngotot dan ingin jawaban yang benar, hal itu bahkan membuat seisi kelas diam dan semuanya memperhatikan pertarungan kami, oke mungkin aku tidak terlalu pintar tapi menurutku jawaban yang aku berikan bersumber dari informasi tidak langsung yang disampaikan buku. Dan setelah ditanya langsung pada guru, jawabanku benar. Dia lalu diam dan entah apakah merasa malu telah menjadi pusat perhatian seisi kelas.

Mereka yang satu kelas sepertinya sangat wajar sekali diam-diam memendam perasaan suka padamu, tapi mereka yang berbeda kelas (?). Sama saja. Ada satu perempuan yang jarak kelasnya saja jauh, juga tidak selalu bertemu setiap hari, tapi ya datangnya perasaan suka tidak peduli tentang itu. Aku tahu bukan karena ngawur, aku mendengarnya, aku melihatnya, dan aku merasakannya. Kami satu asrama. Pernah suatu sore aku tidak sengaja mendengar teman dari perempuan itu memanggilnya dengan sebutan namamu yang dibelokkan, dan seingatku dulu dia juga suka sekali meledekku dengan nama belokkanmu itu padaku, ketika itu aku seperti terkejut dan menyadari sesuatu, ooh pantas saja sikapnya berubah padaku. Setelah aku ingat-ingat, perempuan itu satu organisasi denganmu dan rupanya terpesona dengan caramu berbicara. Wajar, sangat wajar sekali. Ibaratnya pesonamu terlalu kuat hingga rasa-rasanya tidak mungkin perempuan yang sering berjumpa, mendengar, melihat tidak suka padamu.

Mengetahui itu apakah membuatku merasa tersaingi?, tidak, mengingat segala kelebihan yang kamu miliki, itu wajar terjadi. Apakah membuatku merasa sedih?, sekali, ketika mengingat mereka jauh lebih pantas memilikimu daripada aku. Tapi lebih sering tertawa, maksudku sebenarnya mereka tidak perlu bersikap seperti itu padaku, mereka sudah sangat sempurna dan pantas untuk menang. Dan mungkin sebenarnya masih ada banyak perempuan yang juga diam-diam menaruh perasaan padamu, yang lepas dari pengamatanku. Dan sepertinya itu sangat wajar sekali. Karena kamu pantas dicintai, terlepas dari segala kelebihan dan kekuranganmu. Hanya saja, untuk sekarang dan mungkin seterusnya, kamu sudah tidak pantas lagi mendapatkan itu dariku, bal. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membeli yang ke dua

Aku masih ingat bahwa dulu selama aku masih menyimpan perasaan padamu, aku selalu suka terhadap benda apapun yang menjadi peganganmu selama waktu istirahat. Ada satu waktu dimana benda itu adalah buku. Waktu masih smp aku memang sudah suka dengan buku tetapi tidak aku lanjutkan hobiku itu, dan melihatmu membaca buku seperti kembali membangkitkan minat bacaku yang sempat terkubur.   Ketika itu aku sebenarnya tidak terlalu paham dengan buku yang kamu baca bal, sungguh. Aku malah tidak mengerti dengan isinya. Tapi kamu pahamlah bagaimana perasaan orang yang sedang dimabuk asmara, aku memaksa membeli buku itu hanya karena aku ingin memilikinya sama sepertimu. Pada waktu buku itu baru sampai di tanganku, aku begitu menyayangi buku itu, aku beri ia sampul tebal, menuliskan namaku didalamnya, menjaganya seperti aku menjaga lampu ajaib. Aku membacanya, iya aku tetap membacanya meskipun aku masih juga tidak paham dengan isinya. Dengan membuka halaman acak, membukanya pun seperti sedang men...

Dia Temanku

Aku tidak tahu, bahwa ternyata laki-laki yang aku sukai sudah lebih dulu menaruh hati pada salah seorang perempuan di kelasku. Tapi setelah mengetahuinya pun aku tidak benar-benar menyesal telah menjatuhkan hatiku, karena siapa sih yang tahu kapan dan pada siapa akan menjatuhkan hati. Perasaan itu datang tanpa aba-aba, aku sendiri pun lupa alasan apa yang membuatku menyukai laki-laki itu.   Tidak benar-benar menyesal tetapi berhasil membuatku merasa seperti telah salah menempatkan sesuatu. Dan aku menangis, tentu saja. Tapi memangnya apa yang harus aku lakukan waktu itu?, apa aku harus menarik kembali hatiku dan menghapus namanya dalam pikiranku?, tidak semudah itu. Bahkan untuk berhenti memikirkannya pun sulit, terlalu sulit. Aku tidak menaruh kebencian pada perempuan itu, sungguh. Aku hanya merasa tidak seberuntung dia yang telah mendapatkan hati laki-laki itu tanpa diminta. Seringkali aku malah merasa sangat insecure pada perempuan itu, setiap hari, setiap kali aku dekat denga...